Syair Atthar
Gar nahan guiy ayan ah gah bavad, gar ayan guiy nahan an gah bavad
Gar geham juiy chu bichun ast uw, an gah az har dou birun ast uw
Kalau engkau mengatakan bahwa Dia itu tersembunyi,
maka Dia sesungguhnya Mahanyata
Kalau engkau katakan bahwa Dia itu nyata,
Sesungguhnya Dia Mahagaib
Tapi bila engkau cari Dia di dalam keduanya, Dia pun tiada di dalam keduanya,
karena tidak ada yang menyerupai-Nya
(Dina Y. Sulaeman, Pelangi di Persia, Jakarta: IIMan, hal.57)
Syair Rumi
Quwwat-e Jibril az matbakh nabud
bud az didar-e khallaq-e waduud
Kekuatan Jibril bukanlah (bersumber) dari dapur (makanan)
(Dia kuat) karena telah berjumpa dengan Allah Yang Maha Pecinta
(Dina Y. Sulaeman, Pelangi di Persia, hal.219)
Syair Hafiz
Ziraki ra guftam in ahwal bain-e khandid-o guft
Sha’ab ruzi be wal ajab kari parishan alami
(Dengan cerdas aku berkata tentang sesuatu di antara tawa dan kata
Anehnya, suatu hari kesukaran akan datang dan pekerjaan menjadi sulit
(Dina Y. Sulaeman, hal.221)
0 Tanggapan ke “Syair Atthar, Rumi, dan Hafiz”