Tentang Merasa Aman dari Siksa Allah

(Tulisan ini kami nukil dari buku Dosa-Dosa Besar karya Dasteghib, terbitan Cahaya, mengingat relevansinya dengan fenomena dunia sekarang. Bahkan selalu relevan. Semoga berkah Imam Husain as kita peroleh dengan merenungi tulisan ini)

Tidak Memperhatikan Kemarahan dan Siksa Allah
SALAH satu dari dosa-dosa besar adalah pengabaian total terhadap azab Tuhan. Orang tersebut tidak takut pada siksa gaib dan mencemooh gagasan hukuman atas tindakannya. Ia hidup dengan penuh gembiraa di dunia kenyamanan-kenyamanan material dan tidak menyadari bahwa ia dibelenggu bawah oleh dosa-dosanya. Ini merupakan dosa besar. Para imam suci, Imam Jafar Shadiq, Imam Musa Kazhim, dan Imam Ridha, telah mengelompokkan ketidaktakutan pada siksa Allah termasuk dosa-dosa besar. Al-Quran menyatakan, Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? (QS al-A’raf: 97)
Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? (QS al-A’raf: 98)
Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (QS al-A’raf : 99)
Tiga ayat ini secara jelas melarang ketidaktakutan pada azab Allah. Ayat terakhir menyebutkan bahwa mereka yang tidak takut pada azab Allah adalah orang-orang yang merugi di akhirat. Azab Allah adalah balasan pada mereka di Hari Kiamat, seperti halnya nasib bagi orang-orang kafir dan para pendosa yang tidak bertaubat.
Adalah jelas dari al-Quran bahwa bersikukuh untuk tidak mengindahkan rencana Allah merupakan dosa besar. Karena itu kecerobohan pada azab dan peringatan Allah setara dengan pengabaian pada perintah dan larangan-Nya dan kekurangajaran yang hina akan kekuasaan-Nya. Bagaimana mungkin suatu wujud rendah dan remeh, sekarang berani menentang Tuhan dua dunia. Pengabaian dan ketakpedulian ini adalah dosa besar yang tidak pantas menerima ampunan, kecuali si pendosa bertaubat dan meminta ampunan.
Tampaklah jelas dari diskusi di atas bahwa apakah sebuah dosa dapat dimaafkan ataukah tidak lebih tergantung pada sikap si pelaku dosa, bukannya dosa itu sendiri. Apabila dalam relung batinnya yang paling dalam, pendosa tersebut takut pada Allah, maka ia patut mendapatkan pengampunan. Tetapi jika ia secara sombong tidak gentar pada azab Allah, ia tidak layak mendapatkan kemurahan hati dan ampunan Allah.
Rencana Allah (makar) artinya suatu hukuman mendadak yang menimpa si pelaku dosa, seperti disebutkan dalam kitabullah, Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)? (QS al-Qiyamah: 37)
Imla’- Penangguhan
Termasuk rencana Allah adalah ’imla’ (penangguhan [siksa]). Dari masa Allah menciptakan manusia, telah menjadi Sunah Allah bahwa orang yang tak bersyukur dan pendosa tidak akan dihukum atas dosa-dosa mereka dengan seketika. Melainkan mereka diberi penangguhan yang lama. Karena semua orang cenderung berbuat dosa kecuali orang-orang maksum. Apabila setiap orang disiksa atas kesalahan-kesalahan mereka dengan seketika, tak satu orang pun akan bertahan di muka bumi. Allah telah menyatakan di dalam al-Quran, Jika Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatu pun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan….” (QS an-Nahl: 61)
Di samping itu, imla menjadi bukti adanya rahmat Allah bagi orang yang bertakwa. Imla memberi mereka waktu dan kesempatan untuk merenungi dan mengevaluasi (muhasabah) perilaku mereka, menyadari kekeliruan mereka, bertaubat, dan meneguhkan tekad untuk tidak mengulangi dosa-dosa mereka. Kasih sayang Allah, dengan begitu, membantu mereka untuk meraih kebaikan di dunia ini dan di akhirat. Pada sisi lain, kasih Tuhan ini ditunjukkan kepada para pendosa yang tidak bertaubat yang hanya membuat mereka tidak mengindahkan fakta bahwa pada akhirnya mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan-perbuatan mereka. Mereka terus berbuat satu dosa sesudah dosa yang lain dan ketika pelanggaran mereka mencapai suatu batas, suatu azab tiba-tiba menimpa mereka.
Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh. (QS al-A’raf: 183)
Orang-orang kafir dan para pendosa yang mencapai kesuksesan hidup dan kenyamanan boleh dengan bangga merasakan bahwa kemampuan mereka sudah membawa mereka keberhasilan tetapi pada kenyataannya semua yang mereka dapatkan merupakan sejenis azab Allah dan sebentuk balasan yang dikenal sebagai “makar atau tipu daya Allah.”
Penangguhan bagi Pelaku Kesalahan
Al-Quran mengatakan, Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan. (QS Ali Imran, 3:178)
Imam Ridha berkata, ”Demi Allah, mereka tidak dihukum dengan apa pun yang lebih memedihkan dibanding imla (penangguhan).” (Safinat al-Bihar)
Imam Sajjad telah menyebutkan dalam doa Makarim al-Akhlaq: ”(Ya Allah) panjangkanlah usiaku sepanjang hidupku berisi ketaatan kepada-Mu, adapun jika umurku menjadi gembalaan setan, maka ambillah aku sebelum Engkau murka atau sebelum marah-Mu menguasaiku.”
Istidraj
Istidraj pun termasuk dalam siasat Allah. Kadang-kadang penangguhan yang diberikan oleh Allah juga meliputi suatu karunia berkat baru. Allah melimpahkan anugerah-anugerah-Nya pada orang yang telah berdosa agar ia bisa merasa malu atas dirinya dan membuat perubahan. Alih-alih demikian, orang itu sering mengembangkan kepercayaan dan lebih banyak berbuat dosa secara terang-terangan. Orang malang seperti itu disebutkan dalam ayat al-Quran berikut, Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.” (QS al-Araf: 182)
Dalam Safinat al-Bihar disebutkan, “Ketika Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang dan ia melakukan suatu dosa, Allah memasukkannya ke dalam berbagai kesulitan sehingga ia bisa menyadari bahwa penyebab kesulitannya itu adalah dosanya sendiri. Ia kemudian bisa bertaubat karenanya (dengan segera). Ketika Allah ingin menghukum seseorang yang berbuat dosa, Dia memberinya bentuk karunia baru sehingga ia mungkin terpukau oleh karunia tersebut dan mengabaikan taubat. Inilah apa Allah maksudkan dalam ayat itu (yang dikutip di atas).”
Istidraj Bearti Lalai untuk Bertaubat
Ketika Imam Jafar Shadiq as ditanya pengertian istidraj, beliau menjawab, “Ketika seseorang berbuat dosa, ia diberi tempo dan karunia baru, maka ketika ia lalai untuk bertaubat, pelan-pelan ia diarahkan ke arah kebinasaan; yang tentang itu ia ia tidak perhatian. Inilah yang dikenal sebagai istidraj dan siasat Allah.” (Wasail asy-Syi’ah)
Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali as bahwa ia berkata, “Sesungguhnya mereka yang diberi peningkatan di dalam kekayaan dan harta milik oleh Allah, hendaknya tidak memikirkan apa pun kecuali istidraj. Mereka seyogianya tidak gentar akan siasat Allah karena ketenangan mendahului badai.” (Bihar al-Anwar)
Ketidakkhawatiran pada Siasat Allah
Allah memiliki dua macam sifat: Jamaliyah (keindahan) dan Jalaliyah (Keagungan). Contoh sifat Jamaliyah adalah sifat Rahman (Pengasih), Rahim (Penyayang), Karim (Dermawan), Halim (Penyantun), Syakur (Berterima kasih), Ghafur (Pemaaf).
Sementara sifat Jalaliyah adalah seperti al-Jabbar (Perkasa), al-Qahhar (Memaksa), al-Muntaqim (Pendendam), al-Mudzallil (Yang Menghinakan), al-Mutakabbir (Mahasombong) dan asy-Syadid al-Iqab (Mahakeras siksa-Nya). Oleh karena itu, Allah memberitahukan sifat-sifat-Nya dan kemudian mengingatkan siksa-Nya.
Di tempat lain Allah berfirman, Yang Mengampuni dosa dan Menerima tobat lagi keras hukuman-Nya; Yang mempunyai karunia. (QS al-Mukmin: 3)
Demikianlah, Allah adalah Zat yang paling pengasih dari semua pengasih dalam hal ampunan juga yang Paling keras dalam menyiksa.

Filsafat Sendiri

MAHASISWA kita ini melancong keluar negeri. Bukan untuk main-main tentunya. Tetapi untuk melakukan studi banding atas pelajaran-pelajaran yang diterimanya di kampus. Mahasiswa kita ini, entah karena apa, sangat tertarik untuk mempelajari pemikiran para filsuf Barat. Beberapa alasan bisa bisa kita cari. Barangkali karena dia memang terpesona dengan pemikiran Barat, atau karena dia merasa inferior dengan keilmuan bangsanya sendiri. Semoga bukan karena keduanya.
Pertama kali tiba, ia menikmati daerah asing dan berjalan-jalan layaknya seorang turis. Foto kanan-kiri, berdecak kagum setiap kali melihat pemandangan yang selama ini hanya bisa ia nikmati lewat TV. Dengan agak malu, kita harus akui, kelakukan mahasiswa kita ini memang cukup ndeso,
Di sebuah universitas, ia menemui seorang Profesor filsafat. Ia kemukakan tentang ketertarikannya mempelajari pemikiran filsafat Barat.
“Bagus sekali,” jawab Profesor itu. “Tapi kenapa Anda tidak mempelajari filsafat Indonesia? Bukankah itu lebih menarik dan sesuai dengan konteks kehidupan kalian sendiri?”
“Itu dia masalahnya, Prof, ” mahasiswa kita menjawab. “Bangsa kami semula tidak punya masalah genting. Tapi dari Baratlah bangsa kami mendapat banyak masalah: modernisasi, liberalisasi, sekularisasi, kolonialisasi. Maka saya harus mempelajari filsafat Barat untuk mengatasi masalah-masalah brengsek dari bangsa Anda itu, Prof.”

(Si Buta dari Gua Plato, hal.153-154)

Harga Kecintaan pada Ahlulbait as

Seseorang datang mengeluh pada Imam Ali as.

Ia mengadu karena kemiskinannya. Imam menjawab: “Tidak, kamu orang kaya.”
Ia bertanya: “Bagaimana mungkin Ya Imam, sedang aku tidak punya apa-apa”.

Imam(as) berkata: “Kecintaanmu kepada kami Ahlul Bait(as). Maukah kau tukar cintamu dengan seratus dirham?”
Ia menjawab: “Tidak ya Imam.”. “Seribu Dirham?”.
“Tidak ya Imam…”.
“Sepuluh ribu dirham…?”.
“Tidak akan pernah Ya Imam…”.

Imam tersenyum dan berkata: “Lalu, bagaimana mungkin kau berkata kau tidak punya apa-apa ??”.

-Ya Allah Ya Rasul Allah,takkan kami tukar kecintaan ini dengan apa pun hingga akhir hayat kami.
(dari berbagai sumber)

Karl Marx ke Madura

Karl Marx mengunjungi Madura. Ia tertarik dengan kehidupan rakyat di sana. Bagaimana kondisi perekonomian Madura, kesejahteraan masyarakat kecil yang unik di dalamnya. Marx sebenarnya penasaran ingin melihat kaum proletar di sana setelah dibangunnya (jembatan) Suramadu.
Malam pertama di Madura, Marx ingin menikmati sate spesial ala Madura. Pesanan segera datang. Melihat besarnya sate tersebut, Marx terkagum-kagum. Setelah selesai makan, ia bertanya kepada pelayan,”Sate itu dari daging apa tadi? Rasanya kok enak sekali.”
Pelayan menjawab bahwa itu adalah daging sapi yang mati saat bertanding karapan sapi. Mendengar itu, Marx merasa mual perutnya. Tapi karena enak, ia pikir tidak apa-apa.
Esok malamnya, Karl Marx mampir untuk menikmati sate lagi. Tapi kali ini satenya tidak sebesar yang kemarin. Rasanya tidak kalah enak. Namun Marx penasaran mengapa satenya jadi lebih kecil.
“Mas, kenapa sate yang sekarang lebih kecil dari yang kemarin malam?” tanya Marx.
“Oh,” jawab pelayan, “Soalnya dalam karapan hari ini, yang mati adalah penunggangnya.”
(Rif’an Anwar, Si Buta dari Gua Plato,(Kanisius: Yogyakarta, 2011),hal.155.

Sifat Pemaaf, Keutamaan yang Terlalaikan

“Memaafkan orang lain adalah salah satu keutamaan akhlak yang sangat ditekankan oleh Al-Quran dan ajaran Ahlul Bait as. Al-Quran sangat menekankan supaya mukminin mendominasikan sikap memaafkan dan semangat berkorban untuk orang lain dalam kehidupan dan hubungan sosial mereka supaya kelak pada hari kiamat bisa memperoleh ampunan Allah Yang Maha Tinggi,” ungkapnya. Baca entri selengkapnya »

Why an International Day of Al-Quds?

Jerrmein Abu Shahba

As many of us are aware, the last Friday of the holy month of Ramadan has been classified as Al-Quds Day by the leader of the Islamic Revolution of Iran, the great Ayatollah Imam Khomeini. This “international day” of observance was introduced to raise our voices to liberate Al-Aqsa Mosque and also to express solidarity with our oppressed Palestinian brothers and sisters who have been facing great trials not only now but for the past 60 years by the Zionist-Apartheid system of Israel. Despite the knowledge of this clear case of oppression, unfortunately there are a significant number of Muslims who pose some concerns and display a lack of passion for the Quds crisis.
Of all cases of oppression, why did Imam Khomeini dedicate the last Friday of Ramadan for Al-Quds? Baca entri selengkapnya »

Empat Perkara yang Diwasiatkan Allah kepada Musa as

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as berkata, “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman kepada Nabi Musa as, ‘Wahai Musa, ikutilah nasihat-Ku tentang empat perkara:
Pertama, jangan berusaha mencari-cari kesalahan orang lain sepanjang engkau tidak tahu apakah dosa-dosamu sendiri dimaafkan atau tidak.
Kedua, jangan mencemaskan rezekimu sepanjang engkau tahu bahwa perbendaharaan-Ku tidak habis.
Ketiga, jangan menaruh harapan kepada bantuan orang lain sepanjang engkau tahu bahwa Kerajaan-Ku abadi.
Keempat, jangan merasa aman dari rencana-rencana setan sepanjang setan ada.’”
(Syekh Shaduq, al-Khishal, hal.357)

Kamus Asmaul Husna is Very Good!

Judul : Kamus Asmaul Husna: Metode Penyembuhan Secara Tuhan
Penulis : Syekh Maqdisi dan Allamah Kaf’ami
Penerbit : Trimba
Harga : Rp 45.000,-

Satu lagi karya tentang nama-nama Tuhan telah terbit, Kamus Asmaul Husna: Metode Penyembuhan Secara Tuhan. Dikompilasi dari dua karya penulis klasik, Syekh Maqdisi dan Allamah Kaf’ami, buku ini dimulai dari pembahasan riwayat-riwayat mengenai 99 asmaul husna Allah. Sementara Syekh Maqdisi mengambil dari jalur Ahlusunnah, Allamah Kaf’ami merujuknya dari keluarga Nabi, Ahlulbait as.
Pada bagian selanjutnya, Allamah Kaf’ami membahas secara mendalam setiap nama Tuhan yang tidak dikupas oleh Syekh Maqdisi. Pada bagian ini, pembaca akan menemukan masing-masing nama indah Tuhan memiliki pengertian yang sangat mendalam.Penyertaan catatan kaki yang ekstensif pada bagian ini memperkuat pernyataan tersebut.
Bagian terakhir dari buku ini dilengkapi oleh Kaf’ami dengan serangkaian daftar doa-doa dengan menggunakan nama-nama Allah mulai dari huruf alif hingga ya.
Agar kandungan setiap doa yang diawali dengan nama-nama Allah itu berhasil atau dikabul, pihak editor telah melampirinya dengan syarat-syarat dan adab-adab berdoa, tabel-tabel zikir dengan nama Tuhan untuk menyembuhkan atau mengatasi kesulitan-kesulitan kaum muslim.
Pokoke, buku KAMUS ASMAUL HUSNA is very good!

Pepsi Kode Zionisme

Institut Riset Media Timur Tengah (MEMRI) telah merilis pernyataan berbahasa Inggris yang diberikan oleh seorang pemuka Islam di Mesir pada bulan Februari 2009 lalu, dimana dia menjabarkan bahwa PEPSI sebenarnya adalah kepanjangan dari “Pay Every Penny to Save Israel” atau “Sumbangkan setiap penny untuk menyelamatkan Israel.”
Para pemuka Muslim dengan tegas menyatakan mereka takkan pernah menarik pernyataan yang mengemukakan bahwa Pepsi Cola esensinya adalah nama kode bagi komplotan Zionis.

Sebelumnya, seorang anggota parlemen organisasi Hamas di Gaza juga mengeluarkan pernyataan sama tentang hal tersebut pada April 2008 silam. Berbicara dalam stasiun TV Al-Aqsha, anggota perlemen Salem Salamah menyatakan, “Ada berbagai perusahaan yang didirikan oleh para kolonialis dan pendudukan – berbagai perusahaan besar dengan banyak cabang di seluruh penjuru dunia, seperti Pepsi, Pepsi Cola. Ini adalah perusahaan terkemuka. Pepsi adalah kepanjangan dari Pay Every Penny to Save Israel.” Baca entri selengkapnya »

Ayatullah Mazhahiri: Ketenangan Abadi Hanya dengan Mengingat Allah


“Kawula muda masa kini, lantaran telah menjauhkan diri dari Allah, telah direnggut oleh muslihat cinta palsu. Ini adalah sebuah penyakit yang tidak dapat diobati. Mereka siap mengorbankan agama, harga diri, dan seluruh harta milik mereka hanya demi merenggut sebuah cinta palsu. Mengapa? Karena mereka tidak memiliki Allah. Tapi, apabila seorang pemuda merasa memiliki Allah dan Dia bersemayam dalam relung hatinya, niscaya ia pasti dapat menguasai diri,” begitu pesan Ayatullah Mazhahiri dalam sebuah frase kuliah akhlak ini.
Pada kesempatan ini, kita akan mengikuti seluruh wejangan akhlak yang telah disampaikan oleh marja’ agung dunia Mazhab Syiah ini.

Bismillahirrahanirrahim
“Ya Allah! Lapangkanlah dadaku. Mudahkanlah urusanku. Uraikanlah kekeluan lidahku supaya mereka dapat memahami ucapanku.”

Ketenangan Abadi dengan Mengingat Allah

Bulan Rajab adalah bulan Allah. Bulan Sya’ban adalah bulan Rasulullah saw. Dan bulan Ramadhan adalah bulan untuk umat Rasulullah saw.

Dalam tiga bulan ini kita harus berusaha sekuat tenaga guna mewujudkan hubungan naluri yang mesra dengan Allah Tuhan kita. Baca entri selengkapnya »

« Entri lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.